Ketika Si Ganteng Sakit….

Januari 1st, 2010 by Widi Astuti

Saya hanya bisa menangis..saya tidak bisa melakukan apa-apa ketika dia menjerit-jerit kesakitan. Saya tidak tega melihat tangan mungilnya ditusuk jarum infus. Hanif Ibrahim, anak kami tercinta yang paling ganteng harus opname. Hari itu tanggal 27 Oktober 2009 ….Hanif baru berusia 10 bulan tapi sudah merasakan opname karena diare, tentu saja saya sangat sedih.
Awalnya Hanif hanya mencret biasa, mungkin karena memasukan apa saja ke mulutnya (fase oral). Kemudian mencretnya semakin cair seperti ingus dan BAB semakin sering. Semalaman sebelumnya dia nangis rewel, tidak tidur, mingkin merasakam perutnya sakit. Hanif anak pertama kami, baru kali ini Hanif seperti itu. Saya sangat cemas, khawatir….sampai siang Hanif masih mencret padahal sudah dikasih oralit dan teh kental. Akhirnya saya telephon suami yang waktu itu masih di kantor agar segera ijin pulang untuk mengantar Hanif ke dokter. Kami pergi ke salah satu rumah sakit swasta terbaik di kota kami (Salatiga). Kami menemui dokter spesialis anak….dan ternyata saat itu juga Hanif harus opname….saya kaget luar biasa dan…hanya bisa menangis.
Waktu itu tanggal tua…untungnya Perusahaan suami sudah kerjasama dengan rumah sakit tersebut, semua biaya ditanggung perusahaan, jadi saya sudah tidak usah mikir biaya rumah sakit. Tentu saja ini sangat menolong. Andai saya masih juga mikir biaya rawat inap pasti tambah sedih lagi. Saya bersyukur diberi fasilitas berobat dan rawat inap gratis. Saya sadar masih banyak saudara-saudara kita yang masih kesulitan mendapatkan fasilitas kesehatan. Semoga saya bisa selalu menjadi Hamba yang bersyukur dalam kondisi apapun.
Malam pertama di RS Hanif rewel, nangis terus. Meski ruang VIP Utama tapi bagi saya seperti penjara. Saya begadang semalaman ngeloni menenangkan Hanif. Malam kedua Hanif sudah tidak serewel malam pertama…dia sudah bisa tidur, saya juga bisa istirahat sejenak, tetangga kamar sebelah pun bisa agak tenang beristirahat tanpa suara tangis Hanif yang menyayat hati.
Hari ketiga Hanif sudah agak tenang, tapi diarenya masih agak sering. Hari ke-4, ke-5, ke-6 feces Hanif masih agak cair. Akhirnya setelah satu minggu dirawat di RS Hanif diijinkan pulang….alhamdulillah. Saya berpamitan dengan perawat, cleaning service, dan tetangga kamar sebelah, saya minta maaf jika merepotkan mereka.
Ini adalah pengalaman berharga bagi saya, pengalaman pertama mendampingi si kecil sakit hingga opname. Hanif jadi agak kurus pasca diare, makannya agak susah. Semoga opname ini menjadi pengalaman pertama dan terakhir bagi Hanif….amiiiin. Ya Alloh…anugerahilah Hanif kesehatan selalu…lindungi dia…jadikanlah dia anak soleh penyejuk mata, pelipur lara, pembawa nama harum bagi keluarga dan agama…amin….

Smart and Dumb Student

Agustus 19th, 2009 by Widi Astuti

Hampir setiap hari dia lewat di depan rumah.  Kulitnya hitam legam terbakar matahari, menandakan dia adalah seorang pekerja keras. Dengan beralaskan sandal jepit tipis dia memikul dagangannya keliling kampung. Dia seorang penjual putu ayu, dengan suara “nguuung” yang khas saya tahu dia lewat didepan rumah. Suatu ketika saya membeli putu ayu. sambil menunggu putu ayu matang saya mengajaknya ngobrol. Dari obrolan tersebut saya tahu bahwa dia sudah berjualan putu ayu selama 12 tahun..!  saya sempat kaget juga, sudah senior sekali dia di bidang putu ayu ya. Saya berandai-andai…andai dia seorang karyawan dengan masa kerja 12 tahun pasti sudah jadi manager atau asisten manager.  Yang membuat saya lebih terkejut lagi yaitu dia adalah seorang pendatang di Salatiga ini (sama seperti saya). Aslinya dari Sragen, dia disini ngontrak sendirian. Istri dan anaknya tetap tinggal di Sragen. Dia berjualan untuk menyekolahkan anak-anaknya….two thumbs up for him…!

Sekolah….yah demi sekolah bapak penjual putu ayu itu rela berpisah dengan keluarganya.  Dengan mengenyam pendidikan yang layak  diharapkan anak-anaknya kelak dapat menjadi “orang”.  Memang betul  salah satu penentu faktor keberhasilan seseorang adalah dengan pendidikan. Apabila ada orang sukses yang hanya mengenyam pendidikan dasar saya pikir itu adalah kasuistis yang bisa dihitung dengan jari. Kebanyakan orang sukses itu well educated. Dengan pendidikan paradigma seseorang bisa diubah dari negatif  menjadi positif. Dengan pendidikan pula seseorang bisa merubah dunianya. Pendidikan adalah segala-galanya dan berlangsung seumur hidup.

Menurut saya, hal penting yang bisa kita ambil dari “makan sekolahan” adalah cara berpikir, cara memecahkan masalah riil kehidupan.  Jadi sekolah itu bukan untuk mencari nilai atau IPK tinggi, bukan nilai minded. Tapi bukan berarti IPK itu nggak penting, IPK tinggi itu penting dan lebih penting lagi aplikasi kita di dunia riil dalam memecahkan masalah kehidupan. Masalah kehidupan itu lebih komplek dari mata kuliah yang kita lahap di kampus. Jika kita hanya mengejar IPK thok biasanya akan gagap di masyarakat setelah wisuda.

Memang dunia pendidikan formal belum sempurna, kita dituntut untuk “belajar” sendiri mata kuliah “kehidupan” riil. Bukti belum sempurnanya dunia pendidikan kita yaitu belum bisa mengarahkan peserta didik untuk menjadi seseorang yang sesuai dengan minat dan bakatnya.  Jika kita mengingat-ingat teman-teman kita dari bangku SD-Perguruan Tinggi, sudah berapa orang yang sukses dan jadi ‘Orang”? Apakah mereka sukses karena gelar akademiknya atau karena hobbinya?  Biasanya “smart student” sangat rajin belajar, mereka memaksa dirinya untuk menguasai semua mata pelajaran…sebagai hasilnya nilai mereka bagus-bagus. Sedangkan “dumb student” cuek saja dengan pelajaran meskipun tidak menguasai ,  justru mereka  enjoy dengan hobinya….walhasil nilai mereka jeblok dan langganan “kebakaran”.  Walaupun nilai ‘hancur” bukan berarti dunia kiamat. Hal ini berbeda sekali dengan “smart student”, mereka tidak bisa tidur jika hanya mendapat nilai “B” apalagi “C”. Tipe smart student yang ingin menguasai segalanya menyebabkan pengetahuannya merata tapi tidak mendalam. Sedangkan dumb student yang rajin menekuni minat,bakat,dan hobinya menyebabkan dia memiliki spesialisasi mendalam di bidangnya tapi “hancur” di non bidangnya. Tidak selamanya smart student lebih sukses daripada dumb student selepas bangku kuliah. Justru terkadang dumb student akhirnya menjadi orang sukses di bidang yang dia tekuni sebagai hobby.

Saya punya pengalaman pribadi…dulu sewaktu SD saya selalu rangking 1, kemudian masuk SMP favorit di kelas  favorit juga. Setelah itu masuk SMA Negeri dan kuliah di PTN.  Sedangkan Kakak saya (laki2)  dari SD, SMP, SMA, nilai raportnya selalu pas-pasan bahkan terkadang “kebakaran”. Kakak saya lemah di bidang exact,bahasa tapi dia master di bidang seni & melukis. Bakat seninya terlihat sedari kecil. Akhirnya kakak saya kuliah di STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia). Dia enjoy sekali dengan hobbinya di bidang seni. Dan ternyata dengan hobby seni itu mengantarkan kakak saya bisa berkeliling di mancanegara..bahkan sekarang dia bekerja di KBRI di Australia. Well…ternyata kakak saya yang “underdog” bisa melejit dan sukses karena minat,bakat dan hobbinya tersalurkan. So, tidak selamanya smart student lebih sukses daripada dumb student.

Kembali ke bapak penjual putu ayu, saya salut dengannya. Meskipun dia berpendidikan rendah tapi dia berjiwa besar dan berpandangan jauh ke depan….Semoga anak-anak bapak penjual putu ayu tersebut bisa bersekolah dengan baik tidak hanya mencari nilai….Semoga anak-anak bapak penjual putu ayu tersebut bisa menemukan minat dan bakatnya kemudian diarahkan oleh gurunya dengan baik….Amiiin….

Anakku Belajar “Membaca” Dunia

Juli 7th, 2009 by Widi Astuti

Sekarang dia sedang tidur pulas. Kupandangi wajahnya yang  good looking, tak puas rasanya memandang wajahnya. Dia kecapekan setelah tadi ngoceh lama sebelum tidur. Usianya baru 6 bulan 1 minggu, tak sabar rasanya melihat dia segera berangkat sekolah (waduh masih lama banget ya :-) )  Saya sangat menyayanginya, Hanif  Ibrahim, buah hati kami.

Saya ingin dia tumbuh menjadi anak yang shalih dan cerdas.  Saya ingin sekali dia menjadi monster buku. Buku adalah jendela dunia, buku sangat mempengaruhi paradigma seseorang. Sedari kecil saya ingin menanamkan cinta buku pada Hanif. Berbagai cara saya tempuh untuk mengenalkan misi “cinta buku”.  Saya ajak dia membaca buku cerita yang banyak gambarnya berwarna-warni, atau saya membaca majalah keras-keras bersamanya. Saya sangat menikmati waktu-waktu bersamanya, apalagi  ketika belajar dengan flashcard. Matanya berbinar-binar melihat huruf-huruf  warna merah. Dia memperhatikan flashcard dengan antusias, terkadang sambil tertawa atau ngoceh, terkadang juga sambil menjejak-jejakan kakinya…sungguh pemandangan yang menakjubkan.

Satu lagi hobby Hanif yang membuat saya geli, yaitu memperhatikan dengan serius daun bambu. Dia sangat suka berada dibawah daun bambu, bisa betah berjam-jam. Mungkin karena teduh dan adem kali ya;-) Kalau dia rewel atau males maem, cara merayunya gampang…cukup diajak jalan-jalan dibawah daun bambu,hehehe….

Hanif  juga suka memperhatikan anak-anak kecil yang sedang bermain. Untuk mengembangkan kecerdasan intrapersonalnya, saya sering mengajak dia main di “pangkalan” anak-anak dekat rumah kami. Saya ingin kelak ketika dia besar nanti,  Hanif tumbuh menjadi anak yang supel, ramah, mudah beradaptasi dengan lingkunganya. Semoga  kecerdasan emosionalnya dapat berkembang dengan baik.  Saya sadar, kecerdasan emosional sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan kesuksesan seseorang lebih dipengaruhi oleh kecerdasan emosionalnya daparipada kecerdasan intelektual. Dalam sebuah penelitian disebutkan bahwa kecerdasan emosional menyumbang 80% terhadap kesuksesan seseorang. Hal ini bisa saya lihat dan buktikan sendiri di kantor saya dulu. Teman-teman yang melejit karirnya kebanyakan dari bagian marketing, mereka supel, ramah, selalu senyum, mudah berempati, lancar berkomunikasi.  Saya juga  “mantan orang marketing”. Untuk merebut simpati nasabah, biasanya saya melancarkan “jurus-jurus” kecerdasan emosional, hehehe….. Dan biasanya “jurus-jurus” saya berhasil dengan baik :-)

Jika hanya dibekali kecerdasan intelektual dan emosional saya pikir belum cukup, masih ada satu lagi kecerdasan yang dibutuhkan oleh Hanif yaitu kecerdasan spiritual. Dengan kecerdasan spirituall, saya berharap akan mampu membentengi Hanif dari moral buruk dan membuat dia tahan banting dalam menghadapi persoalan kehidupan kelak. Spiritualitas membuat kita tenang dalam menjalani kehidupan.

Saya ingin Anak-anak saya tumbuh menjadi anak yang shalih, penyejuk mata, santun, berbakti pada orang tua. Saya yakin semua orang tua juga menginginkan seperti itu. Untuk mengenalkan nilai-nilai religi padanya, saya sering ajak Hanif  Sholat. Saya baringkan dia disamping saya ketika sholat. Dia anteng dan tidak nangis. Bacaan al-Qur’an  dan doa-doa saya perdengarkan padanya, terkadang dia ikut ngoceh bersama.

Semoga kecerdasan intelektual, emosional, maupun spiritual anakku dapat berkembang dengan baik, tidak timpang.  Semoga dia tumbuh menjadi penyejuk mata kami, menjadi kebanggaan keluarga kami….doa Ummi  selalu menyertaimu nak…Gud nite my dear, have a nice dream…we luv u with all our heart..our pray always with u…..

Keajaiban ASI

Juli 4th, 2009 by Widi Astuti

Akhirnya datang juga hari yang ditunggu-tunggu….setelah 6 bulan menunggu dengan penuh kesabaran dan rasa tak karuan, sampai juga pada hari itu. Yup, tanggal 6 Juni 2009 Hanif Ibarahim anak pertamaku genap berusia 6 bulan dan genap juga dia memperoleh ASI exclusive. Lega sekali rasanya sudah bisa mengantarkan anakku menjadi seorang sarjana ASI exclusive, lunas sudah hutangku padanya :-) Sebagai seorang ibu, saya ingin memberikan yang terbaik bagi buah hati saya, dan ASI adalah makanan bayi terbaik dalam 6 bulan pertama kehidupannya. ASI mengandung kolostrum yang kaya akan antibodi dan substansi anti infeksi, mengandung lebih dari 50 zat imun tubuh yang sangat diperlukan bayi.  Dengan minum ASI bayi akan terhindar dari kekurangan gizi karena ASI mengandung lebih dari 100 jenis zat gizi diantaranya AA, DHA, Taurin, Spingomyelin,  protein, lemak, vitamin, mineral, air dan enzim yang sangat dibutuhkan oleh tubuh. Selain itu ASI juga mengandung semua jenis asam lemak penting seperti omega 3, asam linoleat alfa yang dibutuhkan untuk pertumbuhan otak, mata, dan pembuluh darah yang sehat.  Kandungan ARA dan DHA nya pun tertinggi dibanding susu formula yang paling mahal sekalipun. ASI juga selalu berada pada suhu yang cocok bagi buah hati kita. Untuk memberikan pada si kecil kita tidak butuh persiapan apapun. Dan lebih praktisnya lagi, ASI selalu berada dalam kondisi steril. ASI juga mengandung faktor “pematangan usus”  yang melapisi bagian dalam pencernaan dan mencegah kuman penyakit serta protein berat terserap tubuh bayi. Kandungan faktor pematangan serebrosida akan membuat buah hati lebih cerdas di kemudian hari. ASI juga mampu mendorong pertumbuhan bakteri sehat dalam usus yang bisa mencegah terjadinya penyakit diare dan aneka penyakit saluran pencernaan lainnya. Subhanalloh, banyak sekali manfaat ASI, dan mungkin masih ada beberapa manfaat lain yang belum terungkap oleh ilmu pengetahuan. Maha Suci Alloh dan Maha Benar Firman-Nya yang telah menyuruh kita menyusui anak hingga umur 2 tahun :

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan(QS. Al-Baqarah: 233)

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman:14)

Dengan memberikan ASI exclusive saya berharap Hanif tumbuh menjadi anak yang sehat, cerdas, dan juga shalih :-) Saya tahu di masa-masa kehidupan Hanif besok tentu lebih keras dari masa sekarang, saya tidak ingin Hanif  kalah dalam persaingan hidup kelak. Saya ingin memberikan yang terbaik baginya sedari masa-masa awal kehidupannya karena kewajiban kita sebagai orang tua adalah memberikan bekal sebaik-baiknya, baik dari segi spiritual, fisik, mental, emosional dsb.
Sewaktu mengantarkan Hanif imunisasi, saya sempat heran melihat beberapa ibu muda dengan asiknya memberi susu formula kepada anaknya, padahal mereka ibu rumah tangga yang tidak bekerja. Bahkan dengan bangganya mereka menceritakan berat badan anaknya yang jauh lebih besar dari anak saya. Dalam hati saya berkata ya jelas bobotnya lebih berat dari Hanif, lha wong mereka minum susu sapi yang seharusnya diminumkan utuk anak sapi. Anak sapi itu ya jelas lebih berat dari anak manusia,hehehe…. Saya sempat berpikir, mungkin mereka belum tahu tentang besarnya manfaat ASI exclusive atau mereka malas menyusui anaknya? entahlah… Saya kasihan saja melihat bayi yang diberi susu formula tersebut padahal ibu-ibu mereka punya waktu yang sangat cukup, bahkan berlebih untuk menyusui anaknya. Mau sharing dengan ibu-ibu trsebut waktunya tidak cukup,ya sudahlah….semoga para petugas kesehatan lebih gencar lagi mengkampanyekan program ASI exclusive.

Sebuah penelitian menyebutkan bahwa ternyata masih banyak sekali ibu-ibu yang belum tahu tentang program ASI exclusive 6 bulan (70% dari sampling) . Mereka menyusui penuh anaknya hanya sampai 3 atau 4 bulan. Terkadang merekajuga memberikan cairan lagi selain ASI seperti teh, air putih, madu, jus. Mereka yang tidak tahu tentang ASI exclusive 6 bulan kebanyakan karena tingkat pendidikan yang rendah, tinggal di pedesaan, ataupun tinggal di daerah kumuh perkotaan. Saya berangan-angan, andai semua kaum ibu di Indonesia melaksanakan program ASI exclusive 6 bulan maka insya Alloh generasi muda Indonesia di masa yang akan datang  pasti berkualitas semua…semoga angan-angan saya bisa menjadi kenyataaan,amin….Salam ASI.

Selamat Datang Anakku……

Juni 12th, 2009 by Widi Astuti

Hari itu tanggal 30 Desember 2008 pukul 01.30 malam. Perut saya terasa mules sekali. Feeling saya mengatakan bahwa saya mau melahirkan, padahal HPL 10 Januari 2009. Akhirnya saya putuskan untuk segera berangkat ke salah satu rumah sakit swasta di kota saya (Salatiga). Sesampai di RS saya ditangani bidan & dokter jaga terlebih dulu karena Sp.OG nya belum ada, ternyata sudah bukaan I……fiuhhh untung saya segera ke RS ya. Jam 10 pagi baru diperiksa Sp.OG (waduh-waduh lamaaa sekali baru diperiksa, padahal RS Swasta lho). Dari hasil USG terlihat amnion (cairan ketuban) saya sudah hampir habis jadi harus segera dilahirkan hari itu juga, kalau ditunda bisa membahayakan keselamatan ibu dan anak. Saya nurut saja apa kata dokter. Akhirnya saya diinduksi, rasanya sakit sekali. Perawatnya bilang memang induksi akan terasa sangat sakit. Saya jadi teringat dengan teman saya yang dokter, dia lebih memilih caesar daripada melahirkan normal karena dia tahu sakitnya melahirkan. Tapi saya lebih memilih melahirkan normal saja jika memamng kondisi memungkinkan. Saya merasakan kesakitan yang luar biasa dari jam 10 pagi hingga 18.40. Ditengah deraan rasa sakit yang luar biasa saya hanya bisa berdzikir dan berdoa, saya pasrahkan segalanya pada Alloh. Saya minta kekuatan dari Sang Maha Kuat agar diberi sebagian kekuatanNya untuk bisa menahan rasa sakit ini. Saya menangis, belum pernah saya merasakan sakit yang sangat sakit seperti keadaan diinduksi. Menurut saya sakit yang paling menyakitkan adalah ketika diinduksi melahirkan. Saat itu saya baru tau mengapa ada hadits surga dibawah telapak kaki ibu atau hadis tentang jihadnya wanita adalah melahirkan….Subhanalloh,benar-benar jihad. Dalam kondisi kesakitan yang luar biasa saya sempat merenung, saya saja yang ditolong oleh kecanggihan teknologi masih merasakan kesakitan yang luar biasa apalagi ibu-ibu kita zaman dulu yang teknologinya belum secanggih sekarang pasti lebih dahsyat lagi sakitnya. Saya teringat wajah ibu saya, waktu itu beliau belum datang ke kota saya. Saya juga teringat ibunda para nabi, pasti mereka merasakan sakit yang lebih hebat dari saya. Saat itu saya juga berpikir tentang kematian…saya beristighfar banyak-banyak mohon ampun atas segala dosa saya. Saya merasa kematian itu sangat dekat padahal bekal saya masih sangat sedikit. Saya juga mohon maaf atas semaua kesalahan kepada suami tercinta. Saya sudaha bersiap-siap antara dua pilihan : hidup atau mati syahid. Saat itu saya benar-benar merasakan kekuatan dan kekuasaan Alloh. Dengan pertolonganNya saya kuat menahan rasa sakit, tidak sampai menjerit-jerit atau mengaduh-aduh. Saya henya meringis kesakitan, menangis, berdoa, beristighfar, dan berpegangan erat pada besi pinggir dipan. Saya berpikir andai saya meninggal maka saya mati syahid, itu adalah keadaan meninggal yang paling mulia dan tujuan akhir setiap mukmin. Akhirnya dengan begitu saya menjadi tenang. Setelah berjuang dari jam 01.30 malam, akhirnya saya melahirkan pukul 18.40….alhamdulillah…bayinya laki-laki dan lengkap. Saya sangat bahagia dan terharu….Selamat datang anakku…. My son...Hanif Ibrahim

SEMANGAT : Sumber Energi Yang Tak Pernah Habis

Juni 4th, 2009 by Widi Astuti

Dalam menjalani kehidupan ini tidak selamanya mulus seperti yang kita inginkan. Kadang atau bahkan sering kita menjumpai hal-hal yang tidak diinginkan. Sedih, menangis, gundah adalah ekspresi yang biasa kita lakukan untuk melampiaskan emosi. Ini adalah hal yang wajar, sewajar kita tertawa ketika bahagia.Tapi, akan menjadi tidak wajar jika kita sedih terus menerus sampai kurus kering kerontang… karena tidak ada yang abadi di dunia ini. Tangisan akan berganti dengan senyuman, kesedihan akan berganti dengan kebahagiaan, duka lara berganti menjadi suka ria, gelap malam berubah menjadi terang benderangnya matahari. Semuanya akan berubah jika mengganti paradigma yang kita gunakan dalam menghadapi kesulitan maupun kesedihan. Jika kita selalu menggunakan paradigma positif maka kita pun akan menjadi positif, tapi ketika kita selalu menggunakan paradigma negatif maka kita pun menjadi negatif. Hal lain yang tidak boleh kita tinggalkan ketika berada dalam situasi sulit : Semangat. Saya yakin dengan adanya semangat kita bisa melakukan apapun yang kita inginkan. Semangat adalah sumber energi yang tak terkalahkan untuk menghadapi kesulitan hidup. Sesulit apapun masalah yang kita hadapi, akan bisa kita lalui jika kita punya semangat. Dengan adanya semangat, energi-energi dalam tubuh kita akan menyala untuk bertarung menghadapi masalah dengan penuh keyakinan dan percaya diri. Semangat bisa diibaratka pedang bagi seorang samurai ataupun knight. Saya punya pengalaman pribadi tentang semangat. Kisah ini berasal dari masa SMA saya di Sorong-Papua. Saya pernah tinggal selama 3 tahun di Sorong (masa SMA). Sebagai seorang anak SMA yang tinggal di Sorong, saya sadar bahwa kualitas saya pasti akan berbeda jauh dengan teman-teman SMA yang tinggal di Jawa. Tapi saya punya semangat dan tekad membaja bahwa saya harus lolos UMPTN untuk kuliah di PTN Jawa. Saya tidak mau menjadi tulalit karena tinggal di Sorong. Akhirnya waktu kelas 3 SMA saya belajar mati-matian agar bisa bersaing dengan orang-orang Jawa. Dalam pikiran saya anak-anak SMA di Jawa pintar semua. Akhirnya saya berangkat ke Jawa naik kapal untuk UMPTN (Jadi ingat Laskar Pelangi, Ikal sama Arai numpang kapal barang ke Jawa untuk kuliah, lebih beruntung saya naik kapal penumpang ya). Saya ke Jawa tidak diantar orang tua, tapi ikut tetangga yang kebetulan mau nengok keluarganya di Jawa. Unfortunally, di kapal saya tidak dapat tempat, kapal penuh karena musim liburan dan juga musim UMPTN. Saya tidak menangis, tapi cuek saja menggelar tikar untuk tidur. Selama di kapal saya tetap belajar. Akhirnya sampai juga di Jawa, setelah mengarungi lautan selama empat hari. Saya tiba hari Kamis dirumah kakak saya, hari Jum’at saya langsung pergi mengambil formulir di salah satu PTN di Jateng. Saya tiba di kampus tersebut 5 menit menjelang tutup (Fiuuhhh…deg-degan banget). Keesokan harinya merupakan hari terakhir pengumpulan formulir (bener-bener mepet deh). Dengan mengucap bismillah saya kumpulkan formulir tersebut setelah malamnya saya isi pilihan jurusan yang saya ambil.Hari Selasa saya ikut UMPTN dengan kondisi flu berat. Saya membawa handuk kecil untu menutup mulut saya ketika batuk maupun mengelap (maaf) ingus. Itu merupakan flu terparah yang pernah saya alami karena saya kecapekan fisik maupun batin. Hari pengumuman UMPTN pun tiba, saya membeli koran. Dengan mengucap bismillah dan pasrah sepasrah-pasrahnya pada Alloh, saya mencari nama dan nomor saya….Alhamdulillah saya lolos. Saya pun sujud syukur penuh kebahagiaan. Tidak sia-sia saya bertempur sampai ke Jawa,hehehe. Pengalaman masa SMA dan UMPTN ini sangat membekas dalam diri saya. Semangat bertempur ini terus menerus saya bawa ketika kuliah. Dengan semangat ini saya kuat berpisah dengan orang tua yang waktu itu masih di Sorong. Dengan semangat ini juga saya menghadapi sidang skripsi dan pendadaran. Waktu pendadaran persiapan saya sangat mepet. Hari Rabu pengumuman bahwa saya lolos ikut pendadaran, Kamis saya mencari sepatu dan rok untuk pendadaran. Jum’at saya kondangan manten, teman saya ada yang menikah….kemudian Sabtu saya berperang sidang pendadaran. Jadi persiapannya kurang sekali. Meskipun demikian, Saya nggak terlalu tegang, santai saja. Alhamdulillah saya langsung lolos pendadaran dan dapat B. Bagi saya itu sudah cukup baik karena persiapan yang ala kadarnya.Dengan modal semangat tempur ini juga saya mencari pekerjaan. Seperti pada umumnya fresh graduate, saya rajin mengirim surat lamaran ke berbagai instansi. Beberap tes di instansi saya lalui, akhirnya nyantol di salah satu Bank Syariah. Dengn berbekal pengalaman hidup yang saya alami, saya jadi semakin yakin bahwa Semangat dan doa adalah sumber energi yang sangat penting dalam menghadapi masalah. Saya jadi teringat puisi Henry Ford yang setia menemani saya di kamar :
S E M A N G A T
Kamu dapat melakukan apapun kalau kamu memiliki semangat
Semangat adalah obor yang membuat harapanmu
Membumbung tinggi di langit
Semangat adalah kilaun matamu
Ayunan langkahmu
Pegangan tanganmu
Aliran darahmu
Energi yang mewujudkan mimpi-mimpimu
Mereka yang memiliki semangat adalah juara
Mereka memiliki keberanian
Mereka memiliki kualitas
Semangat adalah dasar segala seuatu
Dengan semangat ada pencapaian
Tanpa semangat hanya ada alasan

Ini adalah puisi favorit saya, saya yakin anda pun menyukainya karena sangat powerfull…so, hidup SEMANGAAATTT…!!!!!

Halo dunia!

Juni 4th, 2009 by Widi Astuti

Selamat Datang Blogdetik.com. Ini merupakan postingan pertama Anda. Silahkan Edit atau hapus postingan ini, dan mulai ngeblog!